Bekam Basah: Manfaat dan Efek Sampingnya

Bekam Basah

Bekam basah merupakan salah satu terapi tradisional yang masih banyak digunakan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan tubuh. Prosedurnya menggunakan alat vakum untuk menarik kulit, kemudian dilanjutkan dengan sayatan kecil pada permukaan kulit agar sejumlah kecil darah keluar. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut terasa melegakan, terutama setelah tubuh terasa pegal atau tegang.

Namun, bekam basah bukan sekadar terapi yang meninggalkan bekas lingkaran pada kulit. Ada manfaat yang dipercaya dapat dirasakan setelah menjalani prosedur, tetapi terdapat pula efek samping dan risiko kesehatan yang perlu dipahami. Karena melibatkan luka pada kulit dan darah, kebersihan alat serta keterampilan praktisi menjadi faktor yang sangat penting.

Dengan memahami manfaat dan risikonya secara seimbang, seseorang dapat mempertimbangkan bekam basah secara lebih bijak dan tidak menjadikannya pengganti pemeriksaan atau pengobatan medis yang memang dibutuhkan.

Apa Itu Bekam Basah?

Apa Itu Bekam Basah

Bekam basah atau wet cupping adalah terapi yang memanfaatkan tekanan negatif dari alat bekam pada permukaan kulit. Setelah kulit mengalami proses vakum, praktisi membuat sayatan kecil menggunakan alat yang seharusnya steril. Vakum kemudian membantu mengeluarkan sedikit darah dari area tersebut.

Prosesnya biasanya berlangsung dalam beberapa tahap:

  1. Praktisi membersihkan area kulit yang akan diterapi.
  2. Cawan bekam ditempatkan pada kulit untuk menciptakan tekanan negatif.
  3. Setelah beberapa waktu, cawan dilepas.
  4. Praktisi membuat sayatan kecil pada kulit dengan alat steril.
  5. Cawan kembali ditempatkan untuk membantu mengeluarkan sejumlah kecil darah.
  6. Area tersebut dibersihkan dan ditutup sesuai kebutuhan.

Berbeda dari bekam kering, bekam basah memiliki tindakan yang menyebabkan kulit terbuka. Karena itu, standar kebersihan menjadi perhatian utama.

Secara tradisional, bekam basah dipercaya membantu melancarkan sirkulasi dan mengurangi ketegangan tubuh. Meski demikian, tingkat bukti ilmiah mengenai manfaat bekam untuk berbagai kondisi masih beragam. Artinya, pengalaman seseorang setelah bekam tidak otomatis membuktikan bahwa terapi tersebut dapat mengobati penyakit tertentu.

Manfaat Bekam Basah yang Sering Dicari

Bekam basah cukup populer karena sebagian orang merasakan tubuh lebih ringan setelah menjalani terapi. Keluhan seperti otot tegang, pegal, atau rasa tidak nyaman pada bagian tubuh tertentu menjadi alasan yang sering mendorong seseorang mencoba terapi alodokter.

Salah satu manfaat yang paling sering dikaitkan dengan bekam adalah membantu mengurangi rasa nyeri. Beberapa penelitian menemukan adanya kemungkinan efek terhadap nyeri pada kondisi tertentu, tetapi hasil penelitian belum cukup konsisten untuk menjadikan bekam sebagai terapi utama untuk semua jenis nyeri.

Selain itu, bekam juga sering digunakan sebagai terapi komplementer untuk membantu relaksasi.

Membantu Mengurangi Ketegangan Otot

Ketika seseorang duduk terlalu lama, berolahraga secara intens, atau melakukan aktivitas fisik berulang, otot dapat terasa kaku. Sensasi tarikan dari cawan bekam pada kulit mungkin memberikan pengalaman relaksasi bagi sebagian orang.

Sebagai contoh, seorang pekerja kantoran bernama Raka secara fiktif mengalami pegal pada bahu setelah berjam-jam bekerja di depan komputer. Setelah mencoba bekam basah, ia merasa area bahunya lebih rileks. Namun, pengalaman tersebut tetap bersifat individual dan tidak berarti bekam menyelesaikan penyebab utama pegalnya.

Jika keluhan muncul akibat posisi duduk yang buruk, misalnya, memperbaiki ergonomi meja kerja tetap menjadi langkah penting.

Membantu Relaksasi

Sensasi terapi, waktu istirahat, serta perhatian terhadap tubuh selama proses bekam dapat membuat sebagian orang merasa lebih rileks. Efek ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa bekam digunakan sebagai terapi pendamping.

Meski demikian, relaksasi tidak sama dengan penyembuhan penyakit. Bekam tetap perlu ditempatkan sebagai terapi komplementer, bukan pengganti diagnosis dan perawatan medis.

Potensi Membantu Keluhan Nyeri Tertentu

Bekam basah juga sering dikaitkan dengan pengelolaan beberapa jenis nyeri, seperti nyeri otot atau keluhan pada punggung. Namun, respons tubuh setiap orang berbeda.

Karena itu, orang yang mengalami nyeri berulang sebaiknya tidak hanya mengandalkan bekam. Nyeri yang berlangsung lama, semakin berat, atau disertai gejala lain perlu mendapat evaluasi tenaga kesehatan.

Efek Samping Bekam Basah yang Perlu Diperhatikan

Efek Samping Bekam Basah yang Perlu Diperhatikan

Di balik manfaat yang dirasakan sebagian orang, bekam basah tetap mempunyai efek samping. Hal ini wajar mengingat prosedurnya melibatkan tekanan pada kulit dan sayatan kecil.

Efek yang dapat muncul antara lain:

  • Memar atau perubahan warna kulit di area bekam.
  • Rasa nyeri atau perih pada lokasi sayatan.
  • Perdarahan ringan.
  • Pusing atau merasa lemas setelah prosedur.
  • Iritasi kulit.
  • Bekas luka pada kondisi tertentu.
  • Infeksi apabila alat atau lingkungan tidak higienis.

Bekas lingkaran pada kulit biasanya dapat bertahan selama beberapa hari. Lama pemulihannya berbeda-beda, tergantung kondisi kulit dan respons tubuh.

Yang lebih penting, infeksi tidak boleh dianggap sebagai efek samping ringan. Area bekam yang semakin merah, bengkak, terasa panas, mengeluarkan nanah, atau menimbulkan nyeri yang semakin berat membutuhkan perhatian medis.

Risiko Bekam Basah Tidak Boleh Diremehkan

Karena melibatkan darah, bekam basah memiliki risiko yang berbeda dari terapi bekam kering. Penggunaan jarum, pisau kecil, cawan, atau peralatan lain yang tidak steril dapat meningkatkan kemungkinan penularan infeksi.

Peralatan yang digunakan untuk satu orang juga tidak boleh digunakan kembali tanpa proses sterilisasi yang benar. Bahkan, untuk peralatan tertentu yang bersentuhan dengan darah, penggunaan alat sekali pakai menjadi pilihan yang jauh lebih aman.

Selain itu, sayatan yang terlalu dalam dapat meningkatkan risiko perdarahan dan kerusakan jaringan. Inilah alasan pemilihan praktisi tidak boleh hanya berdasarkan harga murah.

Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati?

Tidak semua orang cocok menjalani bekam basah. Orang dengan kondisi tertentu perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.

Kehati-hatian diperlukan terutama pada orang yang:

  • Mengonsumsi obat pengencer darah.
  • Memiliki gangguan pembekuan darah.
  • Mengalami anemia atau mudah mengalami perdarahan.
  • Mempunyai luka atau infeksi kulit pada area yang akan dibekam.
  • Memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membuat penyembuhan luka lebih lambat.
  • Sedang menjalani perawatan medis yang memerlukan pertimbangan khusus.

Ibu hamil juga sebaiknya tidak langsung menjalani bekam tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama jika terapi direncanakan pada area tertentu.

Cara Memilih Praktisi Bekam yang Lebih Aman

Jika seseorang tetap ingin mencoba bekam basah, aspek keamanan sebaiknya menjadi prioritas utama. Jangan hanya melihat testimoni atau popularitas praktisi.

Beberapa hal yang dapat diperhatikan meliputi:

  1. Pastikan alat bersih dan steril. Alat yang bersentuhan dengan darah harus ditangani secara higienis.
  2. Tanyakan prosedur sebelum terapi. Praktisi yang profesional seharusnya mampu menjelaskan tahapan bekam dengan jelas.
  3. Perhatikan kebersihan tempat. Ruangan, meja terapi, dan perlengkapan harus tampak bersih.
  4. Hindari berbagi alat yang bersentuhan dengan darah. Ini merupakan salah satu aspek penting untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
  5. Sampaikan kondisi kesehatan terlebih dahulu. Informasikan obat yang sedang dikonsumsi dan masalah kesehatan yang dimiliki.
  6. Jangan memaksakan terapi ketika tubuh tidak fit. Kondisi tubuh perlu menjadi pertimbangan sebelum prosedur.

Praktisi yang baik juga seharusnya tidak menjanjikan bahwa bekam dapat menyembuhkan semua penyakit. Klaim seperti itu justru perlu menjadi tanda untuk lebih berhati-hati.

Bekam Basah Bukan Pengganti Pengobatan Medis

Popularitas terapi tradisional membuat sebagian orang menganggap bekam sebagai solusi untuk hampir semua keluhan. Padahal, pendekatan tersebut dapat berisiko jika membuat seseorang menunda pemeriksaan medis.

Misalnya, seseorang mengalami sakit kepala berat yang muncul tiba-tiba lalu memilih bekam tanpa mencari penyebabnya. Padahal, sakit kepala dengan karakter tertentu dapat membutuhkan pemeriksaan segera.

Karena itu, posisi bekam lebih tepat dipandang sebagai terapi komplementer bagi orang yang memang ingin menggunakannya dan tidak memiliki kontraindikasi. Ketika terdapat gejala penyakit, pemeriksaan tenaga kesehatan tetap memiliki peran utama.

Jadi, Apakah Bekam Basah Layak Dicoba?

Bekam basah memiliki tempat dalam praktik pengobatan tradisional dan sebagian orang menggunakannya untuk membantu relaksasi maupun keluhan nyeri tertentu. Namun, manfaatnya tidak boleh dibesar-besarkan karena bukti ilmiah untuk berbagai kondisi masih belum seragam.

Di sisi lain, efek samping seperti memar, rasa perih, perdarahan ringan, hingga infeksi memang perlu diperhitungkan. Risiko tersebut dapat meningkat ketika prosedur dilakukan tanpa standar kebersihan yang baik.

Pada akhirnya, keputusan menjalani bekam basah sebaiknya berangkat dari informasi yang seimbang. Seseorang perlu memahami manfaat yang mungkin dirasakan sekaligus mengetahui batasannya. Jika keluhan kesehatan cukup serius atau menetap, pemeriksaan medis tetap menjadi langkah yang lebih tepat.

Bekam boleh menjadi bagian dari pilihan terapi komplementer, tetapi keselamatan tetap harus berada di urutan pertama. Terapi tradisional yang dilakukan secara bertanggung jawab bukan tentang mencari kesembuhan instan, melainkan tentang memahami kondisi tubuh dan memilih tindakan dengan pertimbangan yang matang.

Baca fakta seputar : Healthy

Baca juga artikel menarik tentang : Akibat Makan Jengkol yang Perlu Diketahui, dari Bau Menyengat hingga Risiko Gangguan Ginjal

Author